
Pagi itu saya cukup sibuk sekali, jam 07.00 sudah mandi dan siap-siap karna 08.30 saya sudah harus sampai di sebuah rumah sakit di daerah mampang untuk keperluan medical check up , sementara saya bersiap, perut melayu yang terbiasa mengolah nasi ini ga brenti-brentinya protes menuntut sesuatu untuk diolah akibat 10 jam bertahan ga diisi demi kepentingan tes darah dan urine hari ini...
huuuhuuuu..Baru saja kaki mengayun dua langkah dari pintu rumah, bel berbunyi
TEEEET! “siapa ya pagi pagi begini?” batin saya, tak lama kemudian terdengar suara “Mas.. mau nagih iuran sampah bulanan”
Oooh.. tukang sampah.. rajin bener ya nagih iuran pagi-pagi begini.., saya pun merogoh kantong dan menjalankan kewajiban saya sebagai warga yang baik untuk membayar iuran sampah lingkungan.
Sebelum berangkat, saya sempat melirik jarum indikator bensin yang "nyender" dengan huruf E !
hmm.. masih cukup lah sampai di tujuan, nanti pulangnya baru ngisi bensin sekalian mampir ke Loket PLN buat bayar tagihan listrik bulanan kata saya dalam hati.
Dalam perjalanan dering demi dering telpon bersautan menemani macet gilanya jalanan di Jakarta tercinta ini, Dering pertama dari ibu saya yang mengingatkan bahwa Gas untuk masak habis dan titip untuk beli kalau pulang, dering ke 2 dari sebuah bank penyelenggara kartu kredit yang menanyakan keterlambatan pembayaran kartu kredit saya, dering ke 3 dari bengkel yang mengabarkan bahwa biaya perbaikan kendaraan saya bertambah karena harga suku cadang naik semua.
“Oke, sekarang puasanya boleh dibatalin, mas boleh makan dulu, nanti setelah 2 jam kembali lagi untuk ambil darah lagi dan tes urine ke dua ya” kata perawat yang baru saja “menghisap” darah saya demi keperluan penelitian dan persiapan vonis akhir tentang kondisi kesehatan saya...
huh.. begitu sulitnya hidup sehat. Saat kita mau ambil resiko untuk tes kesehatan, saat itu pula kita di hadapi 2 kenyataan yang berbeda. Pertama, kalau hasilnya ga ada masalah mungkin ga akan nambah masalah yang udah ada, tapi kalau hasilnya ada masalah? mulai dari uang sampai masa depan bisa jadi taruhanya.
Sesaat lamunan saya buyar saat kasir memanggil nomer antrian saya dan beberapa detik kemudian berlembar-lembar uang lima puluh ribuan berpindah tangan dari kantong saya ke lacinya...
aaaaargh... sebel ! masih harus beli gas, bayar listrik, beli bensin, bayar ini, bayar itu, bayaaar melulu...
Bweh..KriiiIIING ! deringan keras dari handphone saya yang masih blom bisa 3G,mms, push email, online chat, GPS dan lain sebagainya itu.. membuyarkan lamunan "gerutu" saya sesaat..
Halo… (saya mengangkat telpon)
Halo maas.. saya
TIIIT (sensor) dari
TIIIIT (sensor) Film, untuk sore ini bisa rekaman kan mas? kita deadline nih.. bisa bantu ya… buat TVC ada 3 cut, 30, 15,5, tapi kalo feenya dikali 3 kita ga ada budget nih mas...kan materinya sama,ga usah take lagi,jadi paket fee 1 versi aja ya.. gimana?
*TutSaya pencet tombol
"Switch Off" di handphone saya, sebelum cerocosan penelpon diseberang bikin hidup saya jadi lebih susah.
kalo ga ada budget... isi aja suaranya sendiri.. gampang kan..05112006
JB Handoyo
Sounds familiar Version 1